Matahari terbenam sembunyikan perkataan
Gelap di ujung malam sejauh lemparan anak panah
Air mata membenamkannya ke dasar telaga yang keruh
Karam dengan mata terpejam
Coba untuk mengokohkan janji dengan sisa nafas yang tercekik di ujung lidah
Malam yang membalut luka
Berdansa di pucuk anggur
Nyanyian untuk hari pembalasan
Memacu kuda menuju pesta
Bertarung dengan seribu angka dan tanda
Berteriak !
Bersorak !
Kamis, 01 Oktober 2015
Entah
Senin, 21 September 2015
Berhenti, Jatuh, Mati.
Pada hari ini dihadapanku tampak kelemahan yang putus harapan, mengeringkan lautan lembut nan putih.
Berturut-turut cinta mundur dan lari , berpaling dari tatapannya.
Berhenti ,jatuh ,mati.
Setia yang menguatkan kesedihan , menjatuhkannya dalam bahaya yang sempurna.
Tiba-tiba saja menjadi begitu banyak suara melemahkannya, membunuh , menipu dibalik sekuntum mawar.
Cinta yang menyakiti ,membiarkannya terbenam kedalam lumpur kesunyian.
Berdebar hatinya ,sakit terasa.
Air yang tergenang menampakkan kesedihan, perlahan melayangkannya terbang tak tentu arah.
Laut berguncang mengejutkannya, telaga yang dalam menghinakannya, angin puyuh merobohkannya, hujan deras membinasakannya, guruh menderu menumpahkan amarah.
Perlahan semuanya mereda ,tetesan air mata membawanya menuju ketenangan.
Terlintas asa ,tersirat harap.
Menantikan keelokan ,terangnya mentari di musim panas.
Dan harum pucuk bunga menyiarkan kabar baik dari titik tertinggi dari angannya.